Berita Utama

Viral Video Bullying Siswi SMP di Surabaya, Korban Dipukuli Tujuh Remaja Perempuan

Sebuah video yang memperlihatkan aksi perundungan disertai kekerasan fisik terhadap seorang siswi SMP di Surabaya viral di media sosial.

Dalam video yang beredar luas, terlihat seorang siswi SMP dikerumuni oleh lebih dari lima remaja perempuan. Para pelaku melakukan perundungan verbal sekaligus kekerasan fisik, mulai dari menoyor kepala korban secara bergantian dari berbagai arah, menampar, hingga memukul bagian wajah.

Korban yang seorang diri tidak mampu melawan dan hanya bisa menangis, bahkan beberapa kali diminta oleh para pelaku untuk menghentikan tangisannya.

Aksi tersebut diketahui terjadi di kawasan Kelurahan Kapasari, Surabaya, dan diduga direkam oleh salah satu pihak sebelum akhirnya menyebar luas di media sosial.

Korban dan Terduga Pelaku Masih di Bawah Umur

Korban dalam kasus ini diketahui berinisial CP (13), siswi kelas 1 SMP. Sementara itu, terdapat tujuh remaja perempuan yang diduga terlibat sebagai pelaku, masing-masing berinisial SL (13), DA (12), CPR (13), SPE (14), IR (14), GA (13), dan PR (13). Seluruhnya masih berstatus anak di bawah umur.

Korban yang tidak didampingi siapa pun saat kejadian tampak tidak melakukan perlawanan dan hanya menerima perlakuan kekerasan dari para terduga pelaku.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa perundungan dan kekerasan tersebut terjadi pada 30 Desember 2025. Setelah mengalami kekerasan fisik dan tekanan psikologis, korban bersama orang tuanya melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian pada 1 Januari 2026.

Laporan tersebut tercatat dengan nomor TBL-B/01/I/2026/SPKT/POLSEK SIMOKERTO. Hingga kini, kasus tersebut masih dalam proses penanganan aparat kepolisian.

Korban Alami Trauma

Akibat kekerasan yang dialaminya, korban mengalami luka fisik di bagian pelipis mata serta benjolan di bagian belakang kepala. Korban telah menjalani pengobatan medis untuk menangani luka-luka tersebut.

“Di pelipis, karena dijuluk-julukno atau ditoyor seperti yang terlihat di video. Di pelipis dan ada sedikit bendol di belakang kepala,” jelas Ida.

Selain luka fisik, korban juga masih mengalami trauma psikologis. Meski telah kembali ke sekolah, korban belum dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar secara normal dan masih dalam tahap penyesuaian.

Ida menjelaskan bahwa viralnya video perundungan tersebut turut memperberat kondisi psikologis korban. Korban merasa tidak nyaman karena kejadian yang dialaminya diketahui oleh banyak orang.

“Sudah mulai mau sekolah, tapi tidak sesuai jamnya. Masih penyesuaian secara psikologis. Karena videonya viral, anak merasa semua orang tahu, jadi dia semakin tidak nyaman,” ujarnya.

DP3APPKB Surabaya Beri Pendampingan Korban dan Pelaku

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya telah memberikan pendampingan kepada korban sejak awal Januari 2026. Kepala DP3APPKB Surabaya, Ida Widayati, mengatakan pihaknya mulai melakukan pendampingan pada 5 Januari 2026 dan terus mengawal proses hukum yang berjalan.

“Itu kejadiannya 30 Desember, sudah kita dampingi mulai tanggal 5 Januari. Proses hukumnya juga sudah berjalan dan kami sudah koordinasi dengan Polrestabes. Saat ini masih dalam proses,” ujar Ida saat dihubungi, Sabtu (31/1/2026).

Pendampingan yang diberikan meliputi dukungan psikologis, fasilitasi visum, serta pengawalan dalam proses hukum, sesuai dengan permintaan orang tua korban agar kasus ini segera ditindaklanjuti secara serius.

DP3APPKB Surabaya menegaskan bahwa pendampingan tidak hanya diberikan kepada korban, tetapi juga kepada para terduga pelaku. Hal ini dilakukan karena baik korban maupun pelaku sama-sama masih berstatus anak di bawah umur sehingga penanganan kasus mengacu pada sistem peradilan anak.

“Sama-sama anak. Korbannya anak, pelakunya juga anak. Perlakuannya tentu berbeda dengan kasus yang melibatkan orang dewasa,” pungkas Ida.

Kasus ini menjadi perhatian luas sekaligus pengingat akan pentingnya pencegahan perundungan di lingkungan anak dan remaja, serta perlunya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam menciptakan ruang aman bagi anak.

➡️ Baca Juga: Persib vs Borneo FC Ditunda: iLeague Prioritaskan Fokus Maung Bandung di ACL 2

➡️ Baca Juga: ARM CPU Di Windows 12 Ternyata Bisa Ngehack Game Anti Cheat? Kok Masih Error Terus Sih?

Related Articles

Back to top button