Kapal Induk Nuklir AS Pamer Kekuatan di Depan Iran, Trump Ancam Serangan Lebih Dahsyat dari Juni 2025

Amerika Serikat kembali memamerkan kekuatan militernya di kawasan Timur Tengah dengan mengerahkan armada kapal induk bertenaga nuklir ke perairan dekat Iran. Langkah ini mempertebal ketegangan antara Washington dan Teheran, sekaligus memicu kekhawatiran global akan kemungkinan eskalasi konflik bersenjata dalam waktu dekat.
Pengerahan kekuatan militer skala besar tersebut terjadi di tengah situasi politik Iran yang masih bergejolak pasca-gelombang protes domestik sejak akhir 2025. Presiden AS Donald Trump bahkan secara terbuka mengancam akan melancarkan serangan yang diklaim jauh lebih dahsyat dibanding operasi militer AS pada Juni 2025 lalu.
USS Abraham Lincoln Tiba di Kawasan Strategis
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln (CVN-72) telah memasuki wilayah operasi di Laut Arab. Kapal induk raksasa tersebut menjadi tulang punggung gugus tempur laut AS yang dikerahkan untuk memperkuat postur militer Washington di sekitar Iran.
USS Abraham Lincoln memiliki panjang sekitar 333 meter dengan bobot lebih dari 88.000 ton. Kapal ini membawa lebih dari 60 pesawat tempur dan helikopter, termasuk jet F/A-18E/F Super Hornet yang dirancang untuk misi serangan presisi, penguasaan udara, serta dukungan tempur jarak jauh. Keberadaan kapal induk ini memberi AS kemampuan melancarkan operasi udara intensif tanpa harus bergantung pada pangkalan darat di kawasan.
CENTCOM menyebut pengerahan tersebut bertujuan untuk “mempromosikan keamanan dan stabilitas regional,” meski tidak merinci secara spesifik potensi operasi militer yang tengah disiapkan.
USS Abraham Lincoln tidak beroperasi sendirian. Kapal induk ini dikawal sejumlah kapal perusak rudal kendali kelas Arleigh Burke, termasuk USS Frank E. Petersen Jr., USS Spruance, dan USS Michael Murphy. Kapal-kapal pengawal ini dilengkapi sistem pertahanan udara canggih serta rudal jelajah Tomahawk yang mampu menyerang target darat dari jarak ratusan kilometer.
Kehadiran gugus tempur ini secara signifikan meningkatkan daya gempur AS di sekitar Teluk Persia, sekaligus mengirimkan pesan keras kepada Teheran bahwa Washington siap bertindak cepat jika situasi berkembang menjadi konflik terbuka.
Selain kekuatan laut, Angkatan Udara AS di kawasan Timur Tengah juga melaporkan peningkatan aktivitas latihan militer dan kesiapan operasional dalam beberapa pekan terakhir.
Trump Lontarkan Ancaman Terbuka
Presiden Donald Trump secara terbuka mengaitkan pengerahan armada tersebut dengan situasi politik dalam negeri Iran. Berbicara kepada awak media, Trump menyatakan kekuatan militer AS ditempatkan sebagai langkah antisipatif jika Iran melanjutkan tindakan keras terhadap demonstran.
Trump bahkan memperingatkan bahwa jika AS memutuskan menyerang, skala serangan kali ini akan membuat operasi militer pada Juni 2025 terlihat “tidak ada apa-apanya.” Pada operasi tersebut, AS menyerang sejumlah fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan menggunakan bom penghancur bunker GBU-57 yang dijatuhkan dari pesawat pengebom siluman B-2 Spirit.
Ancaman tersebut menandai eskalasi retorika paling keras dari Washington sejak serangan udara besar-besaran itu dilancarkan.
Iran Waspada, Dunia Internasional Cemas
Pemerintah Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kedatangan USS Abraham Lincoln, namun sejumlah pejabat dan media pemerintah menilai pengerahan armada AS sebagai bentuk tekanan militer dan intimidasi politik. Iran sebelumnya berulang kali menegaskan akan merespons setiap agresi dengan serangan balasan terhadap kepentingan AS dan sekutunya di kawasan.
Sejumlah analis menilai langkah AS lebih bersifat tekanan politik dan militer untuk mempersempit ruang gerak Iran, meski risiko salah perhitungan tetap tinggi. Ketegangan AS–Iran dikhawatirkan dapat memicu instabilitas lebih luas di Timur Tengah, termasuk mengganggu jalur perdagangan energi global di Selat Hormuz.
Baca Juga: 10 Negara dengan Militer Terkuat di Asia 2026: Indonesia di Atas Iran dan Israel
Hingga kini, pergerakan gugus tempur AS terus dipantau ketat oleh komunitas internasional. Dengan retorika keras dari Gedung Putih dan meningkatnya aktivitas militer di kawasan, ancaman eskalasi konflik bersenjata antara AS dan Iran kembali menjadi bayang-bayang serius bagi stabilitas geopolitik global.
➡️ Baca Juga: OBS dipake broadcaster pro bukan cuma karena gratis, fitur ini bikin production value naik
➡️ Baca Juga: Unboxing vivo V60 Lite: HP 5 Jutaan yang Mirip iPhone?




