Berita Utama

Slow Science: Pendekatan Ideal untuk Riset Sosial Humaniora di Indonesia

Pendekatan ‘Slow Science’ Dalam Riset Sosial Humaniora

Dalam upaya melawan tren “junkification” yang mengancam kualitas riset dan publikasi ilmiah, konsep ‘slow science’ diusulkan sebagai pendekatan yang ideal untuk riset sosial humaniora di Indonesia. Pendekatan ini menekankan pentingnya waktu dalam membangun kepercayaan antara peneliti dan subjek penelitian untuk mengungkap realitas yang lebih mendalam.

Pentingnya Waktu dalam Riset

Riset sosial humaniora sering kali memerlukan waktu yang lebih lama untuk menghasilkan data yang valid dan dapat dipercaya. Proses ini mencakup interaksi yang intensif dengan subjek, yang tidak hanya memerlukan keahlian teknis, tetapi juga kemampuan untuk memahami konteks sosial dan budaya yang kompleks. Dengan menerapkan prinsip ‘slow science’, peneliti dapat lebih fokus pada kualitas data daripada kuantitas, sehingga menghasilkan temuan yang lebih bermakna.

Kutipan dari Narasumber

Menurut Dr. Andi Rahman, seorang ahli riset sosial, “Memahami dinamika sosial memerlukan waktu dan dedikasi. Pendekatan ‘slow science’ memungkinkan peneliti untuk menggali lebih dalam, sehingga hasil riset dapat memberikan dampak sosial yang signifikan.”

Konteks dan Latar Belakang

Tren ‘junkification’ dalam riset merujuk pada praktik publikasi yang mengutamakan kuantitas publikasi daripada kualitas. Hal ini sering kali mengakibatkan rilisnya penelitian yang kurang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konteks Indonesia, di mana riset sosial humaniora sangat penting untuk memahami berbagai isu masyarakat, pendekatan ini menjadi semakin relevan. Kebijakan pemerintah juga perlu mengapresiasi dampak sosial dari riset, dengan memberikan dukungan terhadap metode yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Informasi Tambahan

Implementasi ‘slow science’ tidak hanya bergantung pada pendekatan individual peneliti, tetapi juga memerlukan dukungan dari lembaga penelitian dan kebijakan pemerintah. Dengan adanya skema riset multitasar yang memperhatikan dampak sosial, diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi penelitian berkualitas tinggi. Dengan demikian, ‘slow science’ tidak hanya menjadi alternatif, tetapi juga sebuah kebutuhan dalam pengembangan riset sosial humaniora di Indonesia.

➡️ Baca Juga: Astra Mempercantik Stasiun MRT Setiabudi Menyambut HUT ke-69 dengan Gemilang

➡️ Baca Juga: Fakta Infinix Note 50s 5G: Baterai 5500 mAh dan Gorilla Glass 5, Worth It?

Related Articles

Back to top button