Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.786 per Dolar AS, Jumat, 30 Januari

Rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat, 30 Januari 2026. Kurs Garuda mengakhiri sesi di Rp 16.786 per dolar Amerika Serikat (AS), menandakan tren pelemahan di pasar spot masih berlanjut.
Pergerakan ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga melemah terhadap dolar AS. Hingga pukul 15.00 WIB, won Korea Selatan dan yen Jepang memimpin pelemahan, masing-masing turun 0,45%.
Baht Thailand turun 0,43%, dolar Taiwan terkoreksi 0,38%, ringgit Malaysia 0,27%, dolar Singapura 0,16%, dan dolar Hongkong melemah tipis 0,01%. Sebaliknya, peso Filipina memimpin penguatan di kawasan, diikuti penguatan tipis pada rupee India dan yuan China terhadap dolar AS.
Sentimen Global dan Rilis MSCI Menekan Rupiah
Pelaku pasar menilai pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi kombinasi sentimen global dan efek pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Tekanan pasca rilis MSCI masih membebani pasar saham domestik, yang pada gilirannya menyeret rupiah.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, sebelumnya menekankan bahwa nada kebijakan Gubernur The Fed, Jerome Powell, yang cenderung hawkish mendorong pelaku pasar berburu dolar AS sebagai aset lindung nilai, sehingga meningkatkan permintaan terhadap greenback dan menekan rupiah.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah rawan melanjutkan pelemahan terhadap dolar AS selama sentimen belum pulih dan arus modal asing belum stabil. Menurutnya, tekanan dari efek pengumuman MSCI masih dominan di pasar ekuitas domestik.
Dolar AS Menguat, Risiko Geopolitik Meningkat
Penguatan dolar secara global turut memperlemah rupiah. Data Bloomberg pukul 09.04 WIB menunjukkan indeks dolar naik 0,3% ke 96,56.
Di sisi lain, memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menambah beban bagi mata uang Asia, termasuk rupiah. Ekspektasi kemungkinan serangan pada akhir pekan terhadap Iran memicu kekhawatiran aksi balasan, sehingga mendorong aliran dana ke aset aman seperti dolar AS.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mempertimbangkan “serangan besar baru” terhadap Iran setelah negosiasi terkait program nuklir dan rudal mandek, turut memperuncing kekhawatiran. Laporan ini muncul setelah pengerahan sejumlah kapal ke Timur Tengah dan ancaman aksi militer.
Pergerakan Kurs Rupiah
Pada penutupan Jumat (30/1/2026), rupiah ditutup di Rp 16.786 per dolar AS, melemah 0,18% dibanding penutupan sebelumnya di Rp 16.755 per dolar AS.
Menurut Bloomberg pukul 11.04 WIB, rupiah turun 0,20% ke Rp 16.788 per dolar AS. Sementara itu, data Yahoo Finance di waktu yang sama menempatkan rupiah pada Rp 16.781 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif sepanjang hari, dengan potensi ditutup melemah di kisaran Rp 16.750 hingga Rp 16.780 per dolar AS.
Dalam sepekan terakhir, kurs dolar AS terhadap rupiah bergerak antara puncak 16.846 pada 23 Januari 2026 dan terendah 16.680 pada 27 Januari 2026. Posisi saat ini mencerminkan perubahan 0,193% dibanding hari sebelumnya.
IHSG Menguat di Tengah Tekanan pada Rupiah
Bertolak belakang dengan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Jumat pagi. Usai melemah dua hari beruntun, IHSG langsung masuk zona hijau, naik 70,78 poin atau 0,86% ke 8.302,98.
Kendati demikian, pada sesi sebelumnya 10 dari 11 sektor ditutup melemah. Kapitalisasi pasar tercatat menyusut menjadi Rp 14.923 triliun, sementara investor asing masih membukukan jual bersih sebesar Rp 4,63 triliun di seluruh pasar.
Para analis mengingatkan potensi volatilitas masih tinggi di pasar saham. Menjelang akhir pekan, strategi menunggu dan mencermati perkembangan (tunggu dan lihat) dinilai lebih pintar.
➡️ Baca Juga: 15 HP Infinix Gaming 2-3 Jutaan Terbaik 2025: Spek Dewa, Harga Pas di Kantong!
➡️ Baca Juga: Spesifikasi Samsung A05s: Snapdragon 680 & Kamera 50MP di Harga Entry-Level



